Arsip Bulanan: Agustus 2017

Panduan Pemasangan Debian 9 (Bagian 6)

Panduan Pemasangan (Tidak Resmi) Debian GNU/Linux 9.0

untuk Komputer Pribadi dengan Arsitektur x86 dan x86-64

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيمِ

Pelaksanaan Pemasangan (Bagian 3)

12. Memasang sistem dasar

Setelah proses pemartisian selesai dilakukan, langkah selanjutnya adalah memasang sistem dasar Debian. Pada saat ini, pemasang Debian akan memasang paket-paket dasar sistem Debian, seperti paket kernel Linux, perkakas manajemen paket (dpkg dan apt), utilitas inti GNU (coreutils) dan lain-lain. Pemasangan sistem dasar ini akan membutuhkan waktu selama beberapa menit (bergantung pada spesifikasi perangkat keras yang kita gunakan).

Jika kita memasang menggunakan pemasang Debian dalam mode ahli, maka kita dimungkinkan untuk memilih kernel yang akan dipasang dan penggerak (driver) yang akan dimuat ke dalam berkas citra “initrd”.

13. Mengonfigurasi manajer paket (apt)

Setelah proses pemasangan sistem dasar Debian selesai dilakukan, maka langkah selanjutnya adalah mengonfigurasi perkakas manajer paket, yang dalam hal ini adalah perkakas apt. Langkah ini dimulai dengan pemindaian terhadap media CD atau DVD pemasangan oleh pemasang Debian. Jika pemindaian telah berhasil dilaksanakan, maka pemasang Debian akan mendaftarkan media CD pemasangan tersebut sebagai sumber arsip paket Debian yang akan digunakan di dalam proses pemasangan. Setelah itu kita akan ditanya apakah kita ingin memindai media CD yang lain atau tidak.

Setelah itu kita juga akan ditanya apakah kita ingin menggunakan cermin jaringan (cermin arsip paket Debian) atau tidak. Cermin jaringan ini menyediakan paket perangkat lunak yang lebih lengkap dan versi paket yang lebih baru dibandingkan dengan CD pemasangan. Jika kita memiliki sambungan jaringan internet yang bagus, maka akan sangat disarankan untuk menggunakan cermin jaringan ini. Namun jika tidak, maka dengan CD pemasangan saja sebenarnya sudah mencukupi untuk digunakan dalam pemasangan sistem operasi Debian ini terutama jika kita menggunakan media pemasangan berupa media DVD.

Jika kita memilih untuk menggunakan cermin jaringan, maka kita akan diminta untuk memilih cermin arsip paket Debian yang ingin kita gunakan. Dalam penentuan cermin ini, kita sebaiknya memilih cermin yang kita ketahui memiliki sambungan jaringan internet yang terbaik dengan diri kita. Namun jika kita tidak mengetahui perihal cermin tersebut, maka kita dapat memilih cermin yang terletak di dalam negara tempat kita tinggal saat ini. Pemilihan cermin saat pemasangan ini nantinya dapat diubah setelah proses pemasangan selesai dilaksanakan dengan mengubah berkas /etc/apt/sources.list.

Setelah kita memilih cermin jaringan maka pemasang debian akan mengunduh berkas senarai paket yang berasal dari cermin secara otomatis untuk memperbaharui senarai paket yang dapat dikenali oleh perangkat manajer paket (apt).

Jika kita memasang menggunakan pemasang Debian dalam mode ahli, maka kita dimungkinkan untuk memilih untuk mengaktifkan atau menonaktifkan layanan pemutakhiran untuk rilis Debian, dan layanan perangkat lunak backport. Layanan pemutakhiran tersebut adalah pemutakhiran keamanan dan pemutakhiran rilis.

Pemutakhiran keamanan ini akan membantu menjaga sistem kita tetap aman dari berbagai serangan. Pemutakhiran rilis menyediakan versi perangkat lunak yang lebih baru yang berubah relatif sering dan jika kita tidak memiliki versi terbaru dari perangkat lunak tersebut dapat menyebabkan berkurangnya kegunaan dari perangkat lunak. Selain itu pemutakhiran ini juga menyediakan perbaikan-perbaikan regresi.

Perangkat lunak backport merupakan perangkat lunak yang diambil dari versi pengembangan agar dapat bekerja dengan rilis walaupun belum dilakukan pengujian secara lengkap, termasuk beberapa aplikasi dengan versi yang lebih baru yang mungkin menyediakan fitur-fitur yang berguna.

14. Mengonfigurasi sayembara popularitas paket Debian

Sayembara popularitas paket Debian atau Debian Popularity Contest ini merupakan sebuah proyek yang dibuat untuk memetakan penggunaan paket Debian. Proyek ini mendapatkan informasi penggunaan paket dalam bentuk data statistik dari para pengguna secara anonim menggunakan perkakas “popularity-contest”. Perkakas ini akan dijalankan sekali dalam seminggu dan akan mengirimkan informasi tersebut kepada para pengembang Debian. Proyek ini kemudian dapat menggunakan informasi ini untuk mengetahui kepentingan dari masing-masing paket, yang akan mempengaruhi prioritas yang akan diberikan kepada paket-paket tersebut. Secara khusus, paket terpopuler akan disertakan di dalam CD pemasangan Debian, sehingga dapat memudahkan pengguna yang tidak ingin mengunduh atau membeli satu set CD pemasangan secara lengkap dalam mengakses paket tersebut.

Perkakas popurarity-contest ini hanya akan diaktifkan jika pengguna menginginkannya. Hal ini dimaksudkan untuk menghormati kerahasiaan penggunaan pengguna. Di dalam proses pemasangan sistem operasi Debian ini, kita dapat memilih untuk ikut serta berpartisipasi dalam sayembara popularitas ini atau tidak.

15. Memilih dan memasang perangkat lunak

Sampai dengan saat kita memulai langkah ini, hanya perangkat lunak inti sistem yang baru terpasang. Untuk menyesuaikan sistem menjadi yang kita butuhkan, kita dapat memilih untuk memasang sejumlah perangkat lunak tambahan yang telah dikelompokkan dalam beberapa kelompok perangkat lunak yang telah ditetapkan. Sebagai contoh di dalam panduan ini, kita akan memilih memasang lingkungan desktop Xfce, peladen cetak, dan utilitas sistem standar.

Selanjutnya pemasang Debian akan memasang paket-paket yang termasuk dalam kelompok perangkat lunak yang telah kita pilih. Pemasangan perangkat lunak ini akan membutuhkan waktu yang cukup lama (bergantung pada spesifikasi perangkat keras yang kita gunakan, jumlah perangkat lunak yang akan dipasang dan seberapa baik sambungan jaringan internet yang kita gunakan jika kita memilih untuk menggunakan cermin jaringan).

16. Memasang bootloader

Setelah proses pemasangan perangkat lunak tambahan kita lakukan, maka kita dapat melakukan langkah yang terakhir yaitu memasang bootlader pada diska. Bootloader ini merupakan sebuah program yang digunakan untuk memuat dan memulai sistem operasi. Program ini akan memuat kernel sistem operasi ke dalam memori dan mengeksekusinya. Program ini juga menawarkan sebuah menu yang memungkinkan pengguna untuk memilih kernel untuk memuat sistem operasi atau memilih sistem operasi yang akan di-booting.

Program bootloader baku yang digunakan sistem operasi Debian adalah GRUB (GRand Unified Bootloader). Program ini dapat bekerja dengan sebagian besar sistem berkas, mudah dikonfigurasi dan mendukung banyak sistem operasi. Sebelum bootloader dipasang, pemasang Debian akan mencoba untuk memeriksa sistem operasi lain yang telah terpasang pada mesin. Jika menemukan sistem operasi yang didukung, maka bootloader akan dikonfigurasi untuk dapat melakukan booting sistem operasi lain ini di samping Debian. Jika kita memasang sistem operasi Debian dalam mode booting UEFI, maka bootloader akan dipasang secara otomatis pada partisi ESP (EFI System Partition). Namun jika kita memasang dalam mode BIOS lawas, maka kita dapat memilih untuk memasang bootloader pada sektor mbr (master boot record) atau pada partisi lain (seperti partisi root atau partisi /boot sistem operasi). Pemasangan bootloader pada mbr ini perlu dilakukan jika kita ingin menjadikan komputer hanya akan berisi satu sistem operasi saja atau jika kita ingin menjadikan bootloader sistem operasi Debian ini sebagai bootloader baku (jika multi-booting). Selain itu kita juga dapat memilih peranti atau kandar yang akan menjadi target pemasangan bootloader.



Jika kita memasang sistem operasi Debian dalam mode BIOS lawas dengan menggunakan pemasang Debian dalam mode ahli, maka kita dimungkinkan untuk memilih untuk memasang LILO sebagai bootloader sistem kita.

17. Menyelesaikan pemasangan

Setelah bootloader telah selesai dan berhasil dipasang, maka hal tersebut merupakan tanda bahwa kita telah berhasil menyelesaikan proses pemasangan sistem operasi Debian ini. Maka langkah selanjutnya adalah kita dapat menghidupkan atau mem-booting ulang komputer kita untuk mem-booting sistem operasi Debian kita yang baru. Dan jangan lupa untuk melepaskan media pemasangan yang sebelumnya kita gunakan.

Akhir kata, selamat! Kita telah berhasil memasang sistem Debian 9 Stretch” pada komputer. Kini kita dapat memulai untuk belajar dan bekerja menggunakan salah satu sistem operasi terbaik di dunia yang ada saat ini “Debian GNU/Linux”.

Selamat mencoba dan semoga bermanfaat.

Daftar Pustaka

Akbar, Ade Malsasa. 2017. How to Install Debian 9 Stretch DVD1 with Gnome Desktop, (Daring), (http://www.ubuntubuzz.com/2017/07/how-to-install-debian-9-stretch-dvd1-wit­h-gnome-desktop.html, diakses tanggal 16 Juli 2017).

Hertzog, Raphaël dan Roland Mas. 2015. The Debian Administrator’s Handbook. Sorbiers:Freexian.

Kumar, Pradeep. 2017. Debian 9 ‘stretch’ Installation Guide with Screenshots, (Daring), (https://www.linuxtechi.com/debian-9-installation-guide-with-screenshots/, diakses tanggal 8 Juli 2017).

Para Kontributor Wiki Debian. QuickInstall – Debian Wiki, (Daring), (https://wiki.debian.org/QuickInstall, diakses tanggal 10 Juli 2017).

Tim Debian Installer. 2017. Debian GNU/Linux Installation Guide, (Daring), (https://www.debian.org/releases/stretch/amd64/, diakses tanggal 8 Juli 2017).

Iklan

Panduan Pemasangan Debian 9 (Bagian 5)

Panduan Pemasangan (Tidak Resmi) Debian GNU/Linux 9.0

untuk Komputer Pribadi dengan Arsitektur x86 dan x86-64

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيمِ

Pelaksanaan Pemasangan (Bagian 2)

11. Mempartisi diska dan memilih titik kait

Langkah selanjutnya setelah konfigurasi jam adalah mempartisi diska. Langkah ini merupakan langkah yang cukup merepotkan dan berisiko terutama bagi para pengguna pemula, karena jika kurang hati-hati hanya dengan sedikit kesalahan data-data yang tersimpan di dalam diska dapat terhapus seluruhnya. Oleh karena itu, sangat disarankan agar melakukan pencadangan data terlebih dahulu untuk menghindari risiko kehilangan data tersebut.

Pembuatan partisi ini terdiri atas beberapa langkah. Saat memasuki langkah ini, secara otomatis pemasang Debian akan mendeteksi diska keras yang terpasang di komputer. Selanjutnya kita dapat membuat partisi diska, membuat sistem berkas, menetapkan titik kait dan secara opsional mengonfigurasi opsi-opsi yang terkait erat dengan pembuatan partisi seperti RAID, LVM atau perangkat terenkripsi. Perkakas pemartisi yang digunakan dalam pemasang Debian ini merupakan perkakas yang serbaguna. Perkakas tersebut memungkinkan kita untuk membuat banyak skema partisi yang berbeda, yaitu dengan menggunakan berbagai tabel partisi, sistem berkas dan peranti blok tingkat lanjut.

Pertama kali kita memasuki bagian dari menu pemartisi ini, kita akan diberikan kesempatan untuk mempartisi keseluruhan diska atau ruang kosong yang tersedia di dalam diska secara otomatis (pemartisian terpandu). Jika kita tidak ingin membuat partisi secara otomatis, kita dapat memilih opsi manual yang terdapat di dalam menu.

Pemartisian terpandu

Di dalam layar menu awal pemartisian pemasang Debian, kita akan menemukan sejumlah opsi atau metode pemartisian yang dapat kita pilih. Jika diska keras yang kita punya masih kosong atau belum terdapat partisi yang dibuat di dalamnya, maka menu pemartisi akan menampilkan empat opsi, yaitu:

  1. Guided use entire disk
    Opsi ini jika dipilih akan memandu kita membuat partisi secara langsung (metode klasik) menggunakan keseluruhan ruang diska secara otomatis.
  2. Guided use entire disk and set up LVM
    Opsi ini jika dipilih akan memandu kita membuat partisi dengan sistem LVM (Logical Volume Management) dengan menggunakan keseluruhan ruang diska secara otomatis. Dengan opsi ini, pemasang Debian akan membuat sebagian besar partisi di dalam satu partisi besar. Keuntungan dari metode ini adalah partisi di dalam partisi besar ini dapat diubah ukurannya dengan relatif mudah nantinya.
  3. Guided use entire disk and set up encrypted LVM
    Opsi ini jika dipilih akan memandu kita membuat partisi dengan sistem LVM terenkripsi menggunakan keseluruhan ruang diska secara otomatis. Dengan opsi ini, pemasang Debian akan membuat sebagian besar partisi di dalam satu partisi besar dan dienkripsi. Partisi besar tersebut tidak akan dapat dibaca tanpa mengetahui frasa atau susunan kata sandi khusus, sehingga memberikan keamanan ekstra pada data pribadi yang kita miliki.
  4. Manual
    Opsi ini dapat kita pilih, ketika kita ingin membuat partisi secara manual.

Namun jika diska keras yang kita punya ternyata telah terdapat sejumlah partisi (seperti partisi milik sistem operasi lain), maka menu awal pemartisi akan menampilkan satu opsi tambahan yaitu “Guided use the largest continuous free space”. Opsi ini jika dipilih akan memandu kita membuat partisi secara langsung (metode klasik) menggunakan ruang kosong terbesar yang ada di dalam diska secara otomatis dengan skema standar. Opsi ini sangat cocok bagi pengguna yang ingin memasang sistem operasi Debian dengan skema booting ganda (dual boot) maupun multi-booting dengan sistem operasi lain. Opsi ini akan menggunakan ruang kosong yang terdapat di dalam diska, maka sangat disarankan untuk mempersiapkan ruang kosong tersebut sebelum pemasangan Debian dilakukan.

Bagi kita yang belum memahami dengan baik tentang tata cara pembuatan partisi di sistem operasi GNU/Linux, terutama tata cara pembuatan partisi secara manual menggunakan perkakas pemartisi yang terdapat dalam pemasang Debian, maka metode pemartisian terpandu ini merupakan metode yang paling tepat untuk dipilih. Dengan menggunakan metode ini, kerumitan-kerumitan yang mungkin sering kita temui saat pembuatan dan pengelolaan partisi akan berkurang secara drastis.

Untuk memulai pembuatan partisi, langkah pertama yang harus kita lakukan adalah memilih metode pemartisian yang terdapat di dalam menu pemartisi. Untuk menggunakan pemartisian terpandu pilih menu dengan kata awalan “Guided”. Pastikan bahwa menu yang kita pilih telah sesuai dengan yang kita inginkan dan kita rencanakan sebelumnya. Selanjutnya kita pilih diska yang akan dipartisi. Jika di dalam diska telah terdapat data, maka pastikan kita telah melakukan pencadangan data, karena data-data yang terdapat diska tersebut dapat terhapus semuanya.

Kemudian kita pilih salah satu skema partisi yang terdapat di dalam senarai.

Di dalam menu pemilihan skema partisi, kita kan menemukan tiga buah skema. Masing-masing dari skema tersebut memiliki kelebihan dan kekurangan. Skema-skema tersebut adalah:

  1. All files in one partition
    Jika skema ini dipilih, maka semua pohon berkas sistem akan disimpan di dalam sebuah sistem berkas tunggal yang merujuk pada direktori root atau /”. Skema ini merupakan skema permartisian yang sederhana dan kuat yang sangat cocok bagi sistem dengan pengguna tunggal atau perseorangan. Sebenarnya dua buah partisi akan dibuat. Yang pertama adalah partisi root atau “/” yang merupakan tempat dari sistem yang lengkap dan yang kedua adalah partisi “swap” atau memori virtual.
  2. Separate /home partition
    Skema ini hampir serupa dengan skema yang pertama, namun susunan berkas akan dibagi ke dalam dua partisi, yaitu partisi root (/) dan partisi /home yang berisi data-data milik akun pengguna non administratif.
  3. Separate /home, /var dan /tmp partitions
    Skema yang terakhir ini sangat cocok bagi sistem peladen dan sistem dengan banyak pengguna. Dalam skema ini pohon berkas sistem akan dibagi ke dalam banyak partisi, yaitu partisi root (/), partisi /home, partisi /var sebagai tempat penyimpanan berkas-berkas variabel, dan partisi /tmp sebagai tempat penyimpanan berkas-berkas sementara atau temporer.

Jika kita memilih pemartisian terpandu menggunakan sistem LVM atau LVM terenkripsi, maka pemasang Debian juga akan membuat partisi /boot terpisah. Sedangkan partisi-partisi yang lain termasuk partisi swap akan dibuat di dalam partisi LVM.

Jika kita booting pemasang Debian dalam mode UEFI dan memilih untuk menggunakan metode pemartisian terpandu, maka pemasang Debian akan membuat satu lagi partisi tambahan yang biasa dikenal sebagai ESP (EFI System Partition). Partisi ini diformat menggunakan sistem berkas FAT32 yang akan digunakan sebagai tempat bootloader EFI atau UEFI. Namun jika kita ingin memasang sistem operasi Debian ini dengan skema booting ganda atau multi-booting bersama sistem operasi lain dalam mode UEFI, pemasang Debian tidak akan membuat partisi ESP baru namun akan menggunakan partisi ESP yang dibuat dan digunakan oleh sistem operasi lain tersebut.

Sebagai contoh untuk digunakan dalam panduan ini, kita akan memilih skema partisi kedua yaitu “Separate /home partition”. Namun, jika kita lebih menyukai untuk menggunakan skema partisi yang lain, kita dapat memilih skema tersebut.

Setelah kita memilih skema partisi, maka pemasang Debian akan menghitung sebuah saran berupa gambaran ikhtisar susunan partisi yang akan dibuat dan menampilkannya di atas layar. Ikhtisar tersebut juga berisi informasi tentang sistem berkas yang digunakan serta titik kait dari masing-masing partisi tersebut. Jika kita sebagai pengguna merasa kurang puas dengan ikhtisar yang disarankan tersebut, kita dapat mengubahnya seperti mengubah sistem berkas (jika kita kurang suka dengan sistem berkas standar yaitu ext4) dan mengubah ukuran partisi atau membatalkan perubahan partisi tersebut. Namun jika kita setuju, kita dapat langsung memilih “Finish partitioning and write changes to disk” yang terdapat di dalam menu.

 

Selanjutnya kita pilih “Yes” untuk mengonfirmasi penerapan perubahan tabel partisi pada diska.

Pemartisian manual

Bagi kita yang telah memahami dengan baik tentang tata cara pembuatan partisi di sistem operasi GNU/Linux, maka kita dapat memilih metode pemartisian manual. Metode ini menawarkan fleksibilitas yang lebih besar kepada pengguna. Dengan metode ini kita diperkenankan untuk memilih kegunaan dan ukuran dari setiap partisi. Dan jika kita ingin menggunakan RAID perangkat lunak, maka tidak ada pilihan lain kita harus menggunakan metode ini.

Dalam pemasangan sistem operasi GNU/Linux termasuk sistem operasi Debian, kita akan membutuhkan setidaknya dua buah partisi, yaitu partisi root (yang harus dikaitkan pada direktori root atau “/”) dan partisi swap untuk memori virtual. Namun jika diperlukan, kita juga dapat membuat direktori /home, /boot, /var, /tmp, /usr maupun direktori lain menjadi partisi-partisi yang terpisah dari partisi root. Pemisahan partisi ini memiliki beberapa keuntungan, yaitu:

  • jika salah satu sistem berkas rusak, maka data yang berada di luar sistem berkas atau partisi tersebut mungkin akan tetap utuh sehingga dapat meminimalkan kehilangan data;

  • sistem berkas tertentu dapat dikaitkan dengan parameter-parameter yang berbeda, seperti hanya baca (read-only) atau dengan menonaktifkan eksekusi dari berkas-berkas setuid; dan

  • program yang berjalan menggunakan semua ruang yang tersedia pada sistem berkas non-sistem tidak akan mengisi sistem berkas yang kritis.

Namun untuk beberapa direktori inti sistem seperti direktori /bin, /sbin, /proc, /dev, dan /usr (khusus sistem yang telah melakukan penggabungan beberapa direktori seperti /bin, /sbin, /lib, dan /lib64 ke direktori /usr), sebaiknya tidak perlu dilakukan pemisahan partisi dari partisi root karena dapat menyebabkan penurunan performa bahkan “kernel panic”.

Jika kita membooting pemasang Debian dan ingin memasang Debian dalam mode UEFI, kita harus membuat sebuah partisi tambahan sebagai partisi ESP (EFI System Partition). Namun, jika Debian tersebut akan kita pasang berdampingan dengan sistem operasi lain dalam skema booting ganda atau multi-booting dalam mode UEFI, kita tidak perlu membuat partisi ESP baru dan dapat menggunakan partisi ESP yang dibuat dan digunakan oleh sistem operasi lain tersebut. Selain itu untuk dapat memasang dalam mode UEFI, kita membutuhkan diska yang menggunakan format tabel partisi GPT (GUID Partition Table). Atau jika kita ingin memasang Debian dalam mode BIOS lawas (legacy) dengan diska yang menggunakan tabel partisi GPT, kita juga harus membuat sebuah partisi tambahan yang dikenal dengan sebutan “Reserved BIOS boot area”. Partisi ini digunakan sebagai pengganti sektor mbr (Master Boot Record) yang biasanya terdapat pada diska dengan tabel partisi MBR untuk diterapkan pada diska dengan tabel partisi GPT.

Selain itu, dalam kegiatan pemartisian diska ini kita juga perlu untuk memperhatikan mengenai penentuan ukuran atau besaran ruang dari setiap partisi yang akan kita buat. Mungkin di antara kita yang sering menjumpai di berbagai forum daring yang membahas tentang GNU/Linux banyak teman kita yang bertanya tentang seberapa besar ukuran ideal dari partisi-partisi yang akan dibuat saat pemasangan sistem operasi GNU/Linux. Atas pertanyaan ini, biasanya akan didapatkan jawaban yang bermacam-macam. Seperti untuk partisi root (tanpa ada pemisahan partisi untuk direktori lain) ada yang menjawab sebesar 10 GB saja, 15 GB, 20 GB, 40 GB, dan lain-lain. Sebenarnya dalam tataran praktis penentuan ukuran partisi ini tidak ada standar yang benar-benar baku dan dapat dianggap sebagai nilai yang paling ideal. Biasanya pengguna akan mendasarkan pada seberapa besar kebutuhan yang dimilikinya. Sebagai contoh, untuk pemasangan minimal sistem Debian dibutuhkan ruang minimal sekitar 10 GB, namun jika kita ingin memasang banyak paket dan layanan dalam sebuah sistem, maka sebuah partisi root dengan ukuran sebesar 25 GB mungkin akan terasa kurang mencukupi. Oleh karena itu, kita sebagai pengguna harus dapat menentukan seberapa besar ruang untuk data yang kita butuhkan beserta estimasi kebutuhan ruang tambahan untuk penyimpanan data di masa mendatang.

Untuk penentuan ukuran beberapa partisi yang memiliki keperluan khusus seperti partisi swap, ESP, reserved BIOS boot area, dan partisi /boot, kita perlu memperhatikan ketentuan persyaratan minimal dari partisi-partisi tersebut.

  • Untuk partisi swap (memori virtual) dibutuhkan sekurang-kurangnya 256 MB. Partisi ini digunakan untuk menyimpan data yang sedang diproses oleh sistem ketika memori utama (RAM) sistem telah penuh. Oleh karena itu, sangat dianjurkan dalam penentuan ruang swap ini, kita dapat memperhatikan beban kerja memori yang berjalan pada sistem tersebut. Untuk membantu dalam penentukan ukuran ruang swap ini, kita dapat mengikuti beberapa saran yang terdapat dalam tabel berikut.

Jumlah RAM sistem Ruang swap yang dianjurkan Ruang swap yang direkomendasikan jika memungkinkan hibernasi

2 GB

2x jumlah RAM

3x jumlah RAM

2 8 GB

1x jumlah RAM

2x jumlah RAM

8 ≤ 64 GB

4 GB

1,5x jumlah RAM

> 64 GB

4 GB

Hibernasi tidak dianjurkan

  • Untuk partisi /boot, dibutuhkan ruang sekitar 250 MB. Jika kita terbiasa memasang beberapa versi kernel di dalam sistem, maka akan dibutuhkan ruang yang lebih besar. Partisi ini akan dikaitkan pada direktori /boot yang berisi berkas-berkas yang dibutuhkan untuk proses booting termasuk berkas kernel sistem operasi dan berkas citra initrd.

  • Untuk partisi ESP (EFI System Partition) dibutuhkan ruang sekitar 100 s.d 250 MB. Jika kita memasang banyak sistem operasi di dalam komputer, maka akan diperlukan ruang yang lebih besar. Partisi ini berisi berkas-berkas bootloader dan aplikasi EFI, yang akan diluncurkan oleh firmware sistem EFI atau UEFI. Partisi ini menggunakan format sistem berkas FAT32 dan sebaiknya diletakkan pada bagian awal dari diska GPT serta memiliki bendera “boot”.

  • Untuk partisi “Reserved BIOS boot area” dibutuhkan ruang sekitar 1 s.d 2 MB. Partisi ini dibuat tanpa pemformatan sistem berkas dan sebaiknya diletakkan pada bagian awal dari diska GPT serta memiliki bendera “bios_grub”.

Untuk memulai pemartisian manual, kita harus memilih menu “Manual” yang terdapat di dalam menu awal pemartisi. Selanjutnya kita akan memasuki menu pemartisian manual. Di dalam menu ini akan ditampilkan diska-diska yang tersedia, partisi-partisi diska dan ruang kosong yang belum dipartisi. Selain itu, di dalam menu juga terdapat menu-menu untuk melakukan konfigurasi terhadap diska seperti untuk konfigurasi LVM, LVM terenkripsi dan RAID perangkat lunak serta untuk membatalkan dan menyetujui perubahan partisi.

Jika diska belum diformat menggunakan suatu tabel partisi atau jika kita ingin menghapus seluruh partisi yang ada di dalam diska atau mengubah tabel partisi diska ke format tabel partisi yang lain, kita dapat memilih peranti diska yang ditampilkan di dalam menu dan membuat tabel partisi baru pada diska tersebut.

Setelah tabel partisi dibuat, maka selanjutnya kita dapat mulai membuat partisi baru pada diska. Untuk membuat partisi baru, kita dapat mengikuti beberapa langkah berikut:

  1. Kita pilih ruang kosong atau “FREE SPACE” yang terdapat di dalam diska.
  2. Kita pilih “Create a new partition”.
  3. Menentukan besar ukuran partisi. Sebagai contoh untuk partisi root atau “/” kita dapat memberikan ukuran sebesar 10 GB.
  4. Jika kita memasang dalam mode BIOS lawas dan menggunakan tabel partisi MBR, kita harus menentukan tipe partisi apakah Primary atau Logical. Namun, jika kita menggunakan tabel partisi GPT maka langkah ini tidak akan kita lakukan.
  5. Menentukan lokasi partisi baru, apakah akan diletakkan di awal atau di akhir dari ruang diska yang tersedia.
  6. Selanjutnya kita akan memasuki menu pengaturan partisi baru. Di dalam menu ini akan ditampilkan perincian dari partisi yang dapat diatur dan disunting oleh pengguna seperti penggunaan partisi, sistem berkas, titik kait, opsi-opsi pengaitan dan label partisi.
  7. Untuk mengatur dan menyunting titik kait dari partisi, kita dapat memilih kolom “Use as:” yang terdapat di dalam menu pengaturan partisi. Selanjutnya kita dapat memilih penggunaan dan sistem berkas partisi yang ditampilkan di dalam senarai. Sebagai contoh, jika kita ingin menggunakan partisi sebagai partisi root dengan sistem berkas ext4, maka kita harus memilih “Ext4 journaling file system”. Atau jika kita ingin menggunakan partisi sebagai partisi ESP (EFI System Partition), maka kita harus memilih “EFI System Partition”. Sebaiknya telah dipastikan bahwa penggunaan dan sistem berkas dari setiap partisi telah sesuai dengan rencana skema partisi yang telah dibuat.
  8. Untuk mengatur dan menyunting penggunaan dan sistem berkas partisi, kita dapat memilih kolom “Mount point:” yang terdapat di dalam menu pengaturan partisi. Selanjutnya kita dapat memilih titik kait dari partisi yang ditampilkan di dalam senarai. Sebagai contoh, jika kita ingin menggunakan partisi sebagai partisi root, maka kita harus memilih “/ – the root partition” untuk partisi tersebut.
  9. Selain itu, kita juga dapat menala perilaku sistem berkas dengan menentukan opsi-opsi pengaitan yang akan kita gunakan. Untuk menentukan opsi pengaitan, kita dapat memilih kolom “Mount options:” yang terdapat di dalam menu pengaturan partisi. Selanjutnya kita dapat memilih opsi-opsi pengaitan yang akan kita gunakan yang ditampilkan di dalam senarai. Sebagai contoh jika kita menggunakan media penyimpanan SSD (Solid State Drive), untuk meningkatkan performa kita dapat mengaktifkan opsi pengaitan “discard” untuk mengaktifkan fitur TRIM daring otomatis dan “noatime” untuk menonaktifkan penulisan ke diska setiap kali sebuah berkas dibaca.
  10. Untuk menyelesaikan pembuatan sebuah partisi tersebut dan menerapkan pengaturan terhadap partisi, kita dapat memilih “Done setting up the partition” yang terdapat di dalam menu pengaturan partisi baru.

Untuk membuat partisi yang lain, kita dapat mengulang langkah-langkah pembuatan partisi yang telah disebutkan dengan beberapa penyesuaian sesuai kegunaan dari partisi yang akan dibuat. Setelah semua partisi yang kita inginkan telah dibuat, maka langkah selanjutnya kita dapat memilih “Finish partitioning and write changes to disk” untuk menyelesaikan pemartisian ini dan menulis perubahan partisi tersebut ke diska.

Selanjutnya kita pilih “Yes” untuk mengonfirmasi penerapan perubahan tabel partisi pada diska.

Setelah perubahan tabel partisi ditulis ke diska, maka pemasang Debian akan melakukan pemformatan sistem berkas pada partisi-partisi yang telah ditandai untuk diformat.

(Bersambung…)

Panduan Pemasangan Debian 9 (Bagian 4)

Panduan Pemasangan (Tidak Resmi) Debian GNU/Linux 9.0

untuk Komputer Pribadi dengan Arsitektur x86 dan x86-64

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيمِ

Pelaksanaan Pemasangan (Bagian 1)

Setelah tahapan perencanaan dan persiapan pemasangan telah kita lalui, kini kita telah dapat memulai pelaksanaan pemasangan sistem operasi Debian GNU/Linux. Di dalam tahapan pelaksanaan pemasangan ini, terdapat beberapa langkah yang harus kita lakukan. Langkah-langkah tersebut adalah:

1. Menyalakan komputer.

2. Memasang media pemasangan yang telah disiapkan ke komputer.

3. Mengarahkan komputer agar mem-booting media pemasangan.

Untuk dapat mengarahkan komputer agar mem-booting dari media pemasangan, kita dapat membuka menu pemilihan media booting yang dimiliki oleh firmware sistem dan memilih nama media pemasangan yang kita ingin gunakan yang tercantum dalam menu tersebut. Untuk membuka menu tersebut kita dapat menekan tombol “Esc”, “F12”, “F11”, atau tombol lain yang ditentukan oleh pihak pabrikan. Untuk perangkat komputer yang menggunakan firmware sistem UEFI, biasanya akan ada keterangan tambahan “UEFI“ pada menu pemilihan media booting. Jika kita ingin mem-booting media pemasangan dalam mode UEFI, kita dapat memilih nama media pemasangan yang memiliki keterangan tentang UEFI pada menu.

Namun jika sebelumnya kita telah menentukan prioritas media booting ke jenis media pemasangan yang kita gunakan pada menu pengaturan firmware sistem, maka langkah untuk mengarahkan atau memilih media booting ini dapat kita lewati.

4. Menjalankan sistem pemasangan Debian

Setelah media pemasangan kita pilih, komputer akan memulai mem-booting sistem pemasangan Debian. Saat pemasang tersebut booting, kita akan ditunjukkan dengan sebuah menu tampilan yang berisi beberapa masukan yang dapat dipilih untuk memulai sistem pemasangan Debian GNU/Linux dalam berbagai mode. Menu ini sebenarnya adalah tampilan menu dari program bootloader yang digunakan oleh sistem pemasangan. Di dalam sistem pemasang yang ditujukan untuk arsitektur x86 dan x86-64, kita akan menemui dua program bootloader yang berbeda yang masing-masing dari keduanya ditujukan untuk mendukung berbagai mode booting dari sistem komputer. Untuk mendukung booting dalam mode UEFI, sistem pemasang Debian menggunakan GRUB2 sebagai bootloader. Sedangkan untuk mendukung booting dalam komputer yang menggunakan firmware sistem BIOS atau mode BIOS lawas bagi komputer yang yang menggunakan firmware sistem UEFI, sistem pemasang Debian menggunakan bootloader ISOLINUX.

Menu-menu pemasang Debian tersebut adalah:

  1. Graphical Install
    Masukan menu ini jika dipilih akan memulai pemasang Debian dalam mode standar atau normal dengan antarmuka grafis. Setelah di-booting, program pemasang akan memandu kita selangkah demi selangkah secara berurutan.
  2. Install
    Masukan menu ini jika dipilih akan memulai pemasang Debian dalam mode standar atau normal dengan antarmuka teks (newt). Fungsionalitas dari pemasang berbasis teks ini pada dasarnya sama dengan pemasang grafis, karena pada dasarnya keduanya menggunakan program yang sama, namun dengan frontend yang berbeda.
  3. Advanced options
    Menu ini akan menampilkan menu opsi-opsi lanjutan dari pemasang Debian.

    Opsi-opsi lanjutan tersebut adalah:

    1. Graphical expert install
      Masukan menu ini jika dipilih akan memulai pemasang Debian dalam mode ahli dengan antarmuka grafis. Mode ahli ini memberikan kendali yang lebih lengkap atas pemasang Debian. Dalam mode ahli ini kita akan langsung dihadapkan pada menu utama dari pemasang Debian yang harus kita pilih sendiri setiap menu dalam proses pemasangan satu per satu. Jika kita ingin mengonfigurasi jaringan dengan alamat IP statis, memilih sendiri kernel yang akan kita pasang atau ingin menggunakan LILO sebagai bootloader sistem, maka kita disarankan untuk menggunakan mode ahli ini.
    2. Graphical rescue mode
      Masukan menu ini jika dipilih akan memulai pemasang Debian dalam mode penyelamatan atau perbaikan dengan antarmuka grafis. Mode perbaikan ini dapat kita gunakan untuk memperbaiki sistem Debian ketika terjadi kerusakan, seperti gagal booting setelah dilakukan peningkatan dan lain-lain.
    3. Graphical automated install
      Masukan menu ini jika dipilih akan memulai pemasang Debian dalam mode otomatis dengan antarmuka grafis. Mode otomatis ini dapat memasang dengan lengkap sistem Debian secara otomatis menggunakan metode “preseeding”.
    4. Expert install
      Masukan menu ini jika dipilih akan memulai pemasang Debian dalam mode ahli dengan antarmuka teks (newt).
    5. Rescue mode
      Masukan menu ini jika dipilih akan memulai pemasang Debian dalam mode penyelamatan atau perbaikan dengan antarmuka teks (newt).
    6. Automated install
      Masukan menu ini jika dipilih akan memulai pemasang Debian dalam mode otomatis dengan antarmuka teks (newt).
    7. Speech-enabled advanced options
      Menu ini akan menampilkan menu opsi-opsi lanjutan dari pemasang Debian dengan dukungan sintesis berbicara aktif.

      Opsi-opsi lanjutan tersebut adalah:

      1. Expert speech install
        Masukan menu ini jika dipilih akan memulai pemasang Debian dalam mode ahli dengan dukungan sintesis berbicara aktif.
      2. Rescue speech mode
        Masukan menu ini jika dipilih akan memulai pemasang Debian dalam mode penyelamatan atau perbaikan dengan dukungan sintesis berbicara aktif.
      3. Automated speech install
        Masukan menu ini jika dipilih akan memulai pemasang Debian dalam mode otomatis dengan dukungan sintesis berbicara aktif.
  4. Install with speech synthesis
    Masukan menu ini jika dipilih akan memulai pemasang Debian dengan dukungan sintesis berbicara aktif.

Sistem live Debian juga dapat kita gunakan sebagai media pemasangan sistem operasi Debian. Namun jika kita menggunakan sistem live Debian tersebut, maka kita akan menemukan menu pemasang Debian yang tidak selengkap menu pada CD pemasang Debian standar.

Menu-menu pemasang Debian tersebut adalah:

  1. Graphical Debian Installer
    Masukan menu ini jika dipilih akan memulai pemasang Debian dengan antarmuka grafis.
  2. Install
    Masukan menu ini jika dipilih akan memulai pemasang Debian dengan antarmuka teks (newt).
  3. Debian Installer with Speech Synthesis
    Masukan menu ini jika dipilih akan memulai pemasang Debian dengan dukungan sintesis berbicara aktif.

Di dalam panduan ini, kita hanya akan membahas pemasangan Debian dalam mode standar atau normal dengan antarmuka grafis saja. Oleh karena itu, untuk memulai pemasangan kita pilih menu “Graphical Install”. Jika teman-teman pembaca ingin menggunakan mode lain, maka bisa menggunakan panduan yang disediakan oleh pihak lain.

5. Memilih pelokalan

Langkah pertama yang harus dilakukan setelah sistem pemasang Debian kita jalankan adalah memilih pelokalan. Dalam tahapan ini, kita akan diminta untuk memilih bahasa yang ingin kita gunakan dan lokasi atau negara tempat kita tinggal saat ini. Dalam memilih bahasa ini, sebaiknya kita memilih bahasa yang biasa kita gunakan dalam kehidupan sehari-hari atau jika tidak, bahasa tersebut merupakan bahasa yang sudah kita kuasai (minimal secara pasif). Bahasa yang kita pilih tersebut nantinya akan digunakan sebagai bahasa pengantar selama proses pemasangan dan sebagai bahasa baku yang akan digunakan di dalam sistem yang terpasang.

Bahasa baku yang digunakan oleh sistem pemasang adalah bahasa Inggris. Sistem pemasang Debian 9 ini mendukung sekitar 75 bahasa, namun hanya 21 bahasa yang menyediakan terjemahan secara lengkap.

Selanjutnya kita akan diminta memilih lokasi atau negara yang kita tempati saat ini. Lokasi yang kita pilih ini akan digunakan untuk mengatur zona waktu kita dan juga dapat membantu kita dalam memilih pelokalan sistem.

Jika ternyata kombinasi pemilihan bahasa dan lokasi atau negara yang kita pilih tidak dapat didefinisikan oleh pelokalan sistem yang terdapat dalam senarai pelokalan, maka kita akan diminta untuk memilih pelokalan yang kita inginkan yang tersedia untuk bahasa yang kita pilih tersebut. Sebagai contoh, jika kita memilih bahasa Inggris sebagai bahasa untuk sistem pemasangan dan sebagai bahasa baku untuk sistem terpasang serta lokasi Indonesia, maka kita tidak akan dapat menemui pelokalan “en_ID” di dalam senarai pelokalan. Oleh karena itu sebagai gantinya kita dapat memilih pelokalan “en_US.UTF-8” untuk sistem kita.

Jika kita memasang menggunakan pemasang Debian dalam mode ahli, maka kita dimungkinkan untuk memilih pelokalan tambahan untuk sistem.

6. Mengonfigurasi papan ketik

Langkah selanjutnya adalah, kita memilih tata letak papan ketik yang kita inginkan. Sebagai contoh, kita akan memilih tata letak “American English”.

7. Mendeteksi dan mengaitkan CD-ROM serta memuat komponen pemasang

Setelah melakukan konfigurasi papan ketik, proses selanjutnya adalah mendeteksi dan mengaitkan CD-ROM serta memuat komponen pemasang Debian dari CD.

Jika kita memasang menggunakan mode normal, maka proses-proses tersebut akan dilakukan secara otomatis oleh pemasang Debian. Namun jika kita menggunakan mode ahli, kita juga dapat memilih komponen-komponen pemasang Debian tambahan yang mungkin menarik bagi kita sebagai pengguna agar dapat ikut dimuat.

8. Mengonfigurasi jaringan

Langkah selanjutnya adalah mengonfigurasi jaringan. Saat kita memasuki langkah ini, pemasang Debian akan mendeteksi perangkat jaringan yang terdapat di dalam komputer. Jika di dalam komputer terdeteksi lebih dari satu perangkat jaringan, maka kita akan diminta memilih salah satu dari perangkat tersebut menjadi antarmuka jaringan utama yang akan digunakan selama pemasangan. Secara baku, pemasang Debian akan mencoba mengonfigurasi jaringan komputer secara otomatis sejauh mungkin. Jika konfigurasi otomatis gagal, kita akan ditanya apakah ingin mencoba lagi konfigurasi otomatis, melakukan pengaturan manual atau memilih untuk tidak melakukan konfigurasi. Kegagalan konfigurasi otomatis tersebut dapat disebabkan oleh banyak faktor mulai dari kabel jaringan yang tidak terpasang hingga infrastruktur yang hilang untuk konfigurasi otomatis. Dalam konfigurasi jaringan ini, kita juga akan diminta untuk menetapkan nama komputer (hostname) dan nama domain dari komputer kita.

9. Mengatur pengguna dan kata sandi

Langkah selanjutnya yang harus dilakukan adalah mengatur pengguna dan kata sandi. Dalam langkah ini, kita akan menetapkan dua hal. Yang pertama adalah menetapkan kata sandi untuk akun root. Akun root ini merupakan akun yang memiliki hak istimewa dalam sebuah sistem Unix atau mirip Unix (Unix-like). Akun ini memberi kita kemampuan untuk melakukan semua aspek administrasi sistem, termasuk menambahkan akun pengguna, mengubah kata sandi pengguna, memeriksa berkas catatan, memasang perangkat lunak dan lain-lain. Seorang pengguna jahat atau tidak terpercaya dengan akses “root” dapat menyebabkan bencana bagi sistem, sehingga kita harus berhati-hati dengan cara memilih kata sandi yang tidak mudah ditebak. Kata sandi tersebut juga tidak boleh berupa kata yang dapat ditemukan dalam kamus atau kata yang dapat dengan mudah dihubungkan dengan diri kita. Sebuah kata sandi yang baik akan berisi sebuah percampuran dari huruf, angka dan tanda baca serta selalu diganti secara teratur.

Akun root ini tidak boleh memiliki kata sandi kosong. Jika dalam kolom masukan kata sandi ini kita biarkan kosong, maka akun root akan dimatikan atau dinonaktifkan dan akun pengguna pertama sistem akan diberikan kemampuan untuk melakukan kegiatan administrasi sistem menggunakan perintah “sudo”.

 

Hal selanjutnya adalah membuat akun pengguna biasa. Akun pengguna ini akan digunakan untuk melakukan aktivitas non-administratif. Untuk membuat akun ini, hal pertama yang dilakukan adalah menetapkan nama lengkap atau nama asli dari pengguna.

Kemudian kita dapat menetapkan nama dan kata sandi untuk akun pengguna tersebut.

10. Mengonfigurasi jam

Langkah selanjutnya adalah memilih zona waktu sesuai dengan kota tempat tinggal kita saat ini. Jika zona waktu yang diinginkan tidak terdaftar dalam senarai, kita dapat kembali mengulangi langkah pemilihan bahasa atau “Choose language” dan memilih negara yang menggunakan zona waktu yang kita inginkan tersebut.

(Bersambung…)